Selamat Datang

Assalamu'alaikum wr wb.

Di rumah ini, aku bercerita tentang banyak hal yang kualami, kupelajari, dan kutemukan hikmahnya.

ini hanya catatan harianku. Tapi bagian dari jejak sejarah yang pernah terlewati dan akan terlalui.

Terima kasih, jika ada manfaatnya untukmu, saudaraku...

salam hikmah, aku muallaf...

Wassalam

Selasa, 19 Mei 2009

kANGEN

13 Mei 2009

(diiringi lantunan penuh asa Izzatul Islam, Sang Murrobi dan linangan kebahagiaan tak tertandinggi)

Ya Allah izinkan aku kembali

Izinkan aku berbuat

Izinkan aku menikmati jalan para pewaris nabi dan jadikan aku ada diantaranya.

Izinkan dzikir-dzikir penuh kerinduan ini mengalun dalam derasnya butir-butir kebahagiaan

Saat jiwa-jiwa tercerahkan,

saat pilar-pilar keagungan-Mu menjulang di seantero pelosok negeriku.

Izinkan aku tak hanya bernostalgia dengan semua kenangan ini.

Biarkan aku menikmati lagi perjalananku yang sesungguhnya.

Perjalanan hamba yang merindukan senyum Tuhannya.

Perjalanan yang membuatku tersenyum dengan sepenuh jiwaku.

Senyum kedmaian yang bahagian yang tiada terperi dalam tiap detak jantung yang hanya berharap ridho-Mu.

Kuatkan ia ya, Allah…

‘Azzam yang masih tersimpan dalam relung dan palung jiwaku terdalam.

Apa lagi yang kuharap selain senyum-Mu, Rahiim.

Biarlah rasa kesendirian ini pergi dan berganti dengan kebangkitan generasi rabbani yang hadir dari perantara duta-Mu ini.

Sang Murrobi

Ribuan langkah kau tapaki

Plosok negri ku sambangi

Tanpa kenal lelah jemu

Sampaikan firman Tuhanmu………..

Terik matahari tak surutkan langkahmu

Deru hujan badai tak lunturkan ‘azzammu

Ragakan terluka tak jerikan nyalimu

Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih

Panjatkan ampun bagimu

Semua makhluk berdoa

Limpahkan rahmat atasmu……………

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti

Surga kekal nan abadi

Balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami kau semi nilai nan suci

Tegak panji illahi bangkit generasi rabbani.

Semoga Allah mengabulkan doaku di ujung pagi ini. Dan biarkan para malaikat mengamininya. Dan biarkan aku bertemu dengan keindahan wajah Rabbku….

Amiin ya rabbal ‘alamin.

Asma Amanina, di ujung pagi bersama Tinjauan pustaka tesisku.10:50

AKU BELAJAR....DAN HARUS BELAJAR

Bismillah……….

Astaqhfirullahal ‘adzim.

Ya Allah….betapa banyak dosa yang sudah kulakukan hari ini. Mungkin juga karena aku jika seseorang harus melalaikan-Mu. Meski aku tahu, semalam ustadz Syatori menyampaikan bahwa baik buruknya seseorang tidak dipengaruhi seutuhnya oleh orang lain pun komitmennya. Jika pun ada itu hanya 15 % nya saja.

Astaqhfirullahal ‘adzim.

Ya Allah….betapa bodohnya diri ini. Mungkin karena ketidaksempurnaan ilmuku yang membuat orang lain tidak menerima informasi dengan jelas, gamblang dan shahih. Meski aku tahu, semua orang tidak bisa di ajak bicara dengan cara dan ilmu yang ilmiah, dan inginnya dengan bahasa yang mudah dan praktis. Oh, berarti aku harus belajar ilmu cara menyampaikan bahasa hukum ke dalam bahasa masyarakat awam……………

Alhamdulillah,…

Ya Allah….hari ini aku belajar berbicara dengan bahasa yang sederhana, tenang dan menguasai konsep.

Ya Allah, aku juga belajar tentang pentingnya membangun konstruksi hukum yang tidak terburu-buru. Dijelaskan, dituliskan, dipahamkan.

Ya Allah, hari ini aku juga belajar menjadi seorang ibu yang siap dan tangguh. Punya planning saat akan melaksanakan sesuatu hingga tidak melanggar hak-hak menemui-Mu. Menyiapkan perlengkapan anak saat bepergian, hingga tidak menajiskan ibunya saat hendak shalat.

Aku juga belajar menjadi ibu yang tidak over protected pada anak. Menanamkan sikap mandiri dan percaya diri anak agar tidak bergantung pada ibunya. Bukan karena kesibukannya nanti dengan pekerjaan, tapi agar anakku tumbuh menjadi jundi yang kuat dan tidak “cemen”. “Ayo mujahid kecil, katakan engkau jundi yang lebih dicintai Allah karena KUAT”.

Ya Allah, antara senang, sedih dan merasa berdosa yang sangat. Karena aku ceroboh hari ini. Sampai buku agenda seorang Bapak terbawa dalam tasku….oh….Bapak maafkan aku….

Lucu banget sich kisah hari ini.

TRAGIS…!!!!!!

Mau tahu cerita selengkapnya ? hubungi :08……… :)……….dah dulu ah…mau mandi..O_O tapi Ruri juga mau mandi, yo wes duluan aja…………..tak Al Ma’tsuratan dulu.

Maghrib di Asma Amanina, 16 Mei 2009

Jujur aku tidak mau mengingat hari ini, AKU MALU…

Bangkit !

21 April 2008

Bismillahirrahmanirrahim.

Mbak, hari ini adalah moment kebangkitan wanita-wanita Indonesia. Maka janganlah pernah menyerah sekalipun sulit ya, oke…Bapak.

Sender

Mamy Q

21 April 2008

06:53:47

Air mataku menyesakkan kedua kelopak mata, dan akhirnya tumpah juga.

Saat aku bangun 1/3 malam tadi dengan badan yang masih lelah, aku berharap bisa memulai hari ini dengan semangat. Kubunuh rasa malas dan kucoba berwudhu dengan cinta

Rabu, 01 April 2009

Penting

Hari ini kujalani dengan indah. Keindahan itu mulai pudar warnanya saat sebuah kesalahan kulakukan. Sunatullah, tiap keburukan lebih suka mengundang keburukan pula.

Sepertiga malam kulalui dengan teman-teman yang semalaman sempat tidur cukup larut,. Diskusi, tahsin bercanda...oh sampai selarut ini kami masih saja membuat keributan :) (maaf ya yang merasa terganggu,..).

Bangun dengan semangat, aku nyaris melompat dari peraduan. Ingat janji semalam mau tahajjud bareng :)..Tapi ya itulah,...sudah setengah empat rupanya kami baru bangun, meski sudah dibangunin dari tadi. Akhirnya shalat bersama tapi sendiri-sendiri....

Siap menyambut hari, aku menghilangkan sisa-sisa kantuk semalam dengan bersenandung di sepanjang koridor kamar-kamar. Yap today waktunya belanja, rapat di kantor, masak dan standby di training saksi...

Rasanya sudah mantap saja planning-planning semalam sebelum mata terpejam. Tapi ya, namanya rencana, jika ia tidk bisa A maka nusti ada B,C atau apalagi. Dan bener, kejadiannya beda dari planning, meski hanya 20%. Yo wes ra popo... masih bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat pagi ini.

Rapat sosialisasi di kantor berjalan molor!!! entahlah, tapi aku tak mau menyalahkan siapapun toch kita memang menunggu direktur operasional. Setelah berbagai sosialisasi, pertanyaan, pernyataan dan jawaban-jawaban plus PR tercurah dari beberapa personil, adzan Zuhur pun menyapa. (eh,,ada yang Milad tgl 1 April, jadi ada hidangan nie di ruang tamu, trus foto-foto dech Crewnya).

Waktunya pulang dan masak buat ntar malam. Soale pukul 15.00 sudah harus standby di pelatihan saksi. Hanya karena kecintaan yang berlebih dengan diri dan orang-orang dekat, akhirnya tombol power laptop harus kepencet lagi. Lalu wajah-wajah manis mulai menghiasi layar. Yang pasti rata-rata wajahku sendiri (narsiskah?:), gak lah,ya...kata adik yang di psikologi, narsis itu penyakit. Tapi tak apalah, dengan begitu aku jadi bisa mensyukuri nikmat penciptaan). Tapi aktivitas ini akhirnya jadi bumerang....
why?
karena aku menghabiskan sekian menit bersama kotak kecil itu. Yach, sudah kuperkirakan sich. Berapa waktu yang akan kupakai untuk menyelesaiakan menu hari ini. Tapi ups... jam sudah mulai mengarah ke angka 3. Berarti aku harus segera ganti urusan. Lalu kutitipkan prosesi mencuci beras dan nyolokin rice cooker ke adik-adik di rumah. Dan.......... ini rupanya awal masalahnya.

Setelah diantar ke lokasi training, aku pesan minta di jemput adik sekamar pukul 18.00 atau labih baik sebelum maghrib. Ternyata, friend....dia lupa!
aku hanya mengirim gambar senyum ke ponselnya dan say "take care, dik". Semoga tidak masalah lagi di perjalanannya. Aku sudah terlalu lama menanti di sini. Selepas Maghrib harus halaqoh Qur'an. tapi yach, namanya lupa itu pasti tidak ingat :)

Diperjalanan aku membayangkan akan segera menemukan masakan yang tadi sudah kupersiapkan.Ehmm, pasti enak sekali (PeDe banget sich, iyalah. Dalam kamus lidahku kan hanya ada dua rasa, enak dan enak sekali. Masakan orang buatku semua rasanya enak, dan maskan sendiri di lidahku, enak sekali. Wee urik, itu. Kata orang Jambi sekewet. :0 yo ra popo to? lha wong ra doso kok). Karena pedenya bakal makan di rumah, aku hanya membeli sepotong "ayam manis" yang kusuka. Aku menyebutnya begitu.

Setelah menghidangkan makanan, kuperiksa nasi yang tadi kutitipkan untuk dimasak. Oh,,,,Rabbana. Rice cookernya penuh sekali dan nasinya belum matang :(. Sedihnya hatiku, bukan apa-apa, aku tahu semua teman-teman yang ikut masak bareng selalu pulang maghrin dan pasti lapar. Sebelum halaqoh Qur'an biasanya kami makan selepas sholat. Lagian aku baru ingat, kalau dari pagi perutku juga belum disentuh nasi. Pantas rasanya "lapar":). Begini ni kalau tidak disiplin makan. Untuk sakit pencernaanku tidak langsung berontak. Soale sudah diganjal sama makanan lain kali, ya. Tapi karena asli Indonesia, ya biasalah. Kudu ketemu nasi.

Sedih sekali rasanya, saat aku bertugas di hari pertamaku piket masak, aku harus mendzolimi teman-teman. Ohhhhh.

Kadang ada saja hal yang tidak kita sangka-sangka akan terjadi di luar prediksi. Aku berani minta tolong masakin nasi siang tadi, karena biasanya si adik juga biasa masak nasi dan FINE aja. Rupanya dia pun delegasi tugas. Penerima delegasi juga biasa masak nasi.... Masya Allah alangkah pentingnya ternyata belajar masak buat para calon Ibu. Dari hal kecil memprediksi takaran nasi dan ukuran wadah saja perlu latihan ternyata (hayo para wanita).

Aku masih saja menyalahkan diriku yang tidak amanah hari ini. Kecewa?pasti. Tapi sudah kadung ngono,yo piye meneh. rupanya si adik masak dari sore sampai malam begini gak mateng-mateng :). Aku menyesal karena aktivitas di depan laptop siang tadi yang seharusnya tidak ada di daftar agendaku hari ini jadi nyempil. Sedih, friend. Banget!

Terlalu banyak kdang teori yang mampir dalam buku catatan kita, memori kita. Tapi untuk memanggilnya kembali saat tertentu, butuh akhlaq, kebiasaan, karakter (wee berat banget). Ya, kita sering diajari skala prioritas, tapi saat bekerja dan beraktivitas, sudahkan memori tentang ilmu itu menemani? Apalagi jika mengerjakan hal yang bukan hanya urusan diri sendiri, yang ada hubungannya dengan orang lain, yang ada hubungannya dengan untung rugi, apalagi yang ada hubungannya dengan akhirat, betapa beratnya konsekwensi yang harus ditanggung.

Manusia, sekali lagi manusia. Begitu manusiawi. Sering lalai, lupa, malas dan sederetan kisah buruk lainnya. Semoga aku bisa belajar untuk peristiwa ini. 1 April 2009 - Asma Amanina DIY

Rabu, 21 Januari 2009

Selalu

Bismillah....
akhirnya mampir juga ke rumah ini. Tapi diantara pusing yang amat sangat, makanya gak bisa banyak berekspresi. Mohon doa dari muslim sedunia, segera pulih kembali seperti ketika baru lahir:) maksudnya?
Pengorbanan: Milestone Kejayaan
CatatanAkhir Tahun Ketua Himmpas
Hari masih pagi, ketika Nabi menemukan pemuda Anshor itu terpekur lesu di sudut masjid Nabawi. Nabi bertanya dalam hati, ada apa gerangan dengan pemuda ini? Kenapa ia duduk di masjid, sementara ini adalah saat produktif, jamkerja, waktu-waktu untuk berjuang. Rasulullah SAW menghampirinya, dan dengan segenap kelembutan sentuhan langit ia bertanya, “Ya Aba Umamah, limaa liiaraka jalisan filmasjidi fi ghairi waqtish shalah?”. “Wahai Abu Umamah,kenapa kulihat engkau duduk saja di masjid, bukankah ini belum waktunya shalat?”. Lelaki yang mulanya tertunduk itu perlahan menengadahkan wajah.Dengan duka ia mengadu, “Ya Rasulallah, aku sedang gelisah. Aku terbelit hutang…”. Nabi segera paham urusan anak muda ini. Kemudian ia bersabda,“Sahabatku, maukah kau kuberitahu sebuah perktaan, yang jika kau ucapkan makadihapuskanlah semua kegelisahanmu oleh Allah, dan dilunasi-Nya seluruh hutang-hutangmu”. Abu Umamah dengan sepenuh harap menjawab, “Tentu saja wahai Rasul yang mulia”. Rasulullah kemudian mengucapkan kata-kata keramat itu, “Diwaktu pagi dan petang, bacalah olehmu (do’a): “Allahumma inni a’udzubikaminalhammi walhazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi walkasli, wa a’udzubikaminaljubni walbukhli, wa a’udzubika min ghalabatiddayni wa qahrirrijal”, “YaAllah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahandan kemalasan, dari kepengecutan dan kekikiran, serta dari belitan hutang danintimidasi manusia”. Kalimat-kalimat yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ini kemudian menjadi do’a yang mengabadi, dibaca jutaan kaum Muslimin di sepanjang pagi dan petang. Namun do’a itu sebenarnya bukan semata-mata do’a penebus hutang. Ia punya kandungan makna yang lebih dalam. Ia berbicaratentang penguatan pilar-pilar kehidupan yang bisa membebaskan manusia dari duahal. Dua kerangkeng besar yang seringkali mengungkung manusia, memenjarakan kemerdekaan jiwanya, merusak keceriaan hari-harinya. Dua hal itu adalah hutangdan intimidasi, tekanan manusia lain. Hutang adalah simbol ketergantungan ekonomi, dan intimidasi melambangkan keterjajahan moril dan sosial.
Kini, di saat kita dihadapkan pada kenyataan pahit, bahwa kita memang tengah menjadi bangsa pengutang dan seringkali tertunduk pada bangsa lain, layak rasanya kembali me-muraja’ah, mengulang-ulang hikmah yang terkandung di dalam hadits mulia ini. Siklus Kelemahan Ada penjelasan yang runut dariNabiyullah Muhammad SAW dalam do’a ringkas yang diajarkannya tersebut, tentang siklus kelemahan. Bahwa kelemahan dan ketergantungan pada levelnya yang paling akut, sebenarnya bermula dari satu titik. Titik itu berada di hati, namanyakegelisahan (hammun). Kegelisahan adalah kondisi jiwa yang bingung untuk menemukan sikap dan tindakan yang tepat. Kegelisahan adalah kecamuk yang mendebarkan jantung secara sporadis, dalam ritme yang acak-acakan. Dan kegelisahan ini punya karib bernamakesedihan (huznun). Kesedihan merupakan kondisi di mana jiwa tak mampumenerima selisih antara keinginan dengan kenyataan, maka ia terguncang...Dua masalah hati ini kemudian terakumulasi sedemikian rupa, melahirkan kelemahan (‘ajzun). Kelemahan melahirkan kemalasan (kaslan).Perselingkuhan antara kelemahan dan kemalasan inilah yang kita sebut apatisme.
Apa selanjutnya? Tak ada. Jika jiwa telah terkungkung oleh tembok apatisme, maka pandangannya tertumbuk, bashirah-ya mengabur. Tak ada lagi semangat, tidak ada visi, tak ada keberanian. Makaitulah, Nabi mengajarkan pada kalimat berikutnya untuk terus menerus berlindung kepada Allah SWt dari deraan penyakit apatisme; kepengecutan (jubn) dan kekikiran (bukhl). Apa itu pengecut? Segala definisi tentangkepengecutan bermuara pada satu kesimpulan, keengganan mengambil resiko. Apapula itu kikir? Kikir adalah keengganan untuk berkorban.
Pengorbanan Sebagai Pilar Keutamaan
Jiwa pengecut dan lemah pengorbanan, merupakan simptom jiwa yang rusak, tua dan ringkih. Kalau jiwa semacam ini bersemayam di jasad pemuda, maka tak berguna lagi kesehatan fisik dan kebugaran raganya. Layaklah ia dikatakan pemuda tua. Bahkan mungkin kitapantas bertakbir empat kali atas kematian mereka sebelum ajal tiba.
Pengorbanan, adalah pilar keutamaan. Pengorbanan adalah spirit para pemuda. Lihatlah Ashabul Kahfi. Tertatih mereka lari meninggalkan negerinya, hijrah dari kemewahan istana untuk menjadi ‘manusia gua’. Pengorbanan itu semata mereka lakukan untuk mempertahankan kebenaran, mempertahankan prinsip, membela aqidahnya. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya merekaa dalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi;Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran".(QSAl Kahfi; 13-14). Jiwa belia, ilmu yang menyinari hati, dan iman yang berkobar-kobar di dada mereka, menjadikan mereka pribadi-pribadi kukuh. Di hadapan Diqyanus, raja yang tiranik dan despotis,mereka mengumandangkan aqidah mereka. Menggemakan tauhid yang murni. Setelah itu tak mengapa terusir, karena tugas telah ditunaikan, amanah telah disampaikan. Inilah karakter pemuda selamanya, teguh kukuh. Inilah warna perjuangan pemuda yang sejati, deklaratif, proklamatif dan atraktif. Pemuda tak berjuang dalam sunyi. Pemuda tak sepi dari kreasi. Pemuda tak menutup diri untuk menangisi diri, tenggelam dalam kesalehan pribadi sementara lingkungannya tengah tercemari. Pemuda adalah para ahlutadhiyah, pribadi-pribadi yang rela bahkan berlomba untuk berkorban. Mereka tak pernah menutup mulutnya karena ketakutan, tak gemetar tangannya karena ancaman, tak lunglai lututnya karena tekanan dan penderitan. Ibrahim as, yang kita kaji ulang sejarah perikehidupannya pada momen ‘Iedul Adha lalu, juga merupakan pemuda ahlu tadhiyah. Di tanah Babylonia yang diwarnai angkara Namrudz, ia proklamirkan perjuangan tauhidnya. Ia lancarkan atraksi ‘basmi berhala’-nya. Setelah itu ia kalahkan pula Namrudz dalam perdebatan intelektual yang tajam. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,"orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QSAl Baqarah; 258)Lepas itu kita melihat hidup Ibrahim terusmenerus didera badai cobaan berkepanjangan. Dibakar di lautan api, hingga peristiwa penyembelihan Isma’il yang menggetarkan hati. Tapi itu semua berujung indah. Seluruh pengorbanan itu mengantarkan Ibrahim sebagai Imam, panutan sejarah. Maka manasiknya pun dijadikan sebagai perayaan akbar ummat ini. Perhelatan haji merupakan parade cinta, napak tilas pengorbanan Ibrahim as dan keluarganya yang diberkati. “Dan(ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:‘Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’……” (QSAl Baqarah: 124)…………………………..
Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa lompatan besar hanya milik mereka yang berani untuk berlari lebih kencang. Bahwa keagungan hanya milik mereka yang rela berkorban. Bahwa keutamaan hanya milik mereka yang bersedia berkontribusi lebih. Ibnul Qayyimal-Jauziyah mengatakan, “ajma’a ‘uqala-ul ummah, anna na’im laa yudrakubinna’im wa anna raahah laa tunaalu birraahah”. “Sudah menjadi pandangan umum para cendikia, bahwa kenikmatan takkan pernah digapai dengan kenikmatan, dan kelapangan tidaklah diwujudkan dengan kelapangan”. Kini kita berdiri di sini. Mematut-matut diri di depan cermin besar peradaban. Lantas kita menemukan bahwa kita adalah anak-anak zaman, yang dikaruniai oleh Allah SWT berbagai kelebihan. Kita adalah pemuda yang mendapatkan sentuhan lembut keimanan, mereguk manisnyahidayah, berhimpun dalam nikmatnya persaudaraan, terang-benderang di bawah naungan cahaya keilmuan. Maka tak layak potensi ini diabaikan. Tak patut segala keutamaan yang Allah karuniakan ini kita nikmati sendiri dalam diam. Mari mensyukurinya dengan amal. Berikan waktu, tenaga, dana, dan potensi apa saja demik emaslahatan dan kejayaan masa hadapan. Kobarkan semangat pengorbanan, bersama dalam kebaikan!
Andree S.IP (Mohon maaf, pak tulisannya bagus. Jadi saya tampilkan saja, ya. Agar banyak yang membaca. jangan berhenti menulis, pak. Terima kasih

Senin, 19 Januari 2009

N A M A

Beberapa hari ini, saya selalu di hadapkan pada ucapan seputar kata ini "nama". Anda mungkin sering mendengar beberapa ungkapan tentangnya. Ada yang mengatakan "apalah arti sebuah nama" atau justru tepisan yang menyatakan bahwa "nama adalah doa". Beberapa hari yang lalu, teman sekamarku menanyakan nama apa ya mbak yang cocok untuk dipadukan dengan kata Hanif?Dengan skenario Allah di kelas pagiku, ustadz menyingggung tentang cara orang tua memberikan nama untuk anaknya. Ada yang memberi nama panjang dan indah didengar, ada yang memberi nama yang didasarkan bagaimana ya cara memanggilnya? Intinya, mereka berfikir kalau anaknya diberi nama bla bla bla, panggilannya apa.Atau mungkin ada diantara kita yang memberi nama anpa makna hanya karena suka kosa katanya, atau bahkan nama tokoh dan lain sebagainya. Baru beberapa menit yang lalu, saya dan teman-teman pun diskusi tentang nama. Nama organisasi.Iya, benar asumsi kita ia akan menjadi identitas dari content yang ditawarkan, pastinya. Diakhir saya hanya mengatakan, dari berbagai pilihan yang bagus itu, sebagai sebuah lembaga yang akan menembus pasar umum, kesan eksklusif haruslah dihilangkan. Bukan berarti tidak memahami bahwa nama adalah hal yang penting, namu yang juga tidak kalah penting dari sebuah "label" adalah "isi". Balik ke nama anak,...Kalau buat nama, jangan lupa beri pangggilan yang baik dan bermakna, ya. Karena nama adalah panggilan yang berupa doa. Wallahu 'alam.

ekspresi menjelang adzan Dzuhur
18 Januaru 2009