Selamat Datang

Assalamu'alaikum wr wb.

Di rumah ini, aku bercerita tentang banyak hal yang kualami, kupelajari, dan kutemukan hikmahnya.

ini hanya catatan harianku. Tapi bagian dari jejak sejarah yang pernah terlewati dan akan terlalui.

Terima kasih, jika ada manfaatnya untukmu, saudaraku...

salam hikmah, aku muallaf...

Wassalam

Jumat, 21 Agustus 2009


Ajari aku mendeteksi cinta…..

Apakah itu jatuh cinta,…

Saat hati begitu gulana dan ingin mengekspresikannya

Apakah itu cinta

Ketika keinginan bertemu denganNya memutar langkah dari kelaziman perintah


Mampukah

Selasa, 23 Juni 2009


Mahalnya nilai pertolongan

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah,

niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Q.S.Muhammad : 7

Suatu hari sebuah nomor yang tidak saya kenal mengirimi sebuah pesan singkat. Setelah salam ia bertanya apakah saya fulanah yang berasal dari Jambi. Pesan itu baru terbaca pada hampir pukul sebelas malam. Saya tidak tahu siapa beliau dan tidak dapat memastikan beliau seorang pria atau wanita. Saya hanya khawatir jika beliau sangat membutuhkan jawaban saya saat itu. Akhirnya saya tetap membalasnya “Mohon maaf, saya baru saja membuka hp, benar saya Fira. Tapi mohon maaf, jika berkenan dan ada yang dapat saya bantu, mohon menghubungi kembali besok pagi setelah jam enam. Saya ada kelas. Terima kasih atas pengertiannya.”

Pukul enam pun berlalu. Dan tidak ada sebuah pesan pun yang masuk. Saya berusaha positif thinking, mungkin saja beliau masih sibuk. Saya tidak ingin berfikir kalau ini adalah diantara pesan iseng yang sering saya dapatkan. Ternyata benar, beberapa saat kemudian nomor itu kembali mengirimi pesan. “mohon maaf sebelumnya jika menganggu, tapi saya memang ingin meminta tolong.” Ternyata beliau membutuhkan buku yang hanya ada di perpustakaan salah satu fakultas di UGM, Perguruan Tinggi tempat saya kuliah dan sebuah kampus yang juga beliau sebutkan. Setelah memberi jawaban, iya.insya Allah saya bisa membantu, saya pun bertanya dengan siapa saya sedang ber SMS an. Ternyata beliau adalah orang yang dulu banyak membantu saya berkonsultasi tentang legislatif kampus ketika saya masih kuliah di S1.

Saya langsung berfikir bagaimana cara memperoleh buku itu dengan bantuan orang-orang disekitar saya. Akhirnya saya meminta pertolongan pada adik se-asrama yang kebetulan kuliah di fakultas yang bersangkutan. Beliau menyanggupi. Alhamdulillah. Tapi memang sulit rupanya meminta pertolongan pada orang yang berjiwa pedagang. Mungkin ini negatif thinking saya saja. Tapi setelah saya coba untuk muhasabah, mengapa begitu sulitnya harapan mendapatkan pertolongan itu akan terealisasi, saya jadi berfikir, mungkin karena yang dimintai tolong tidak pernah merasa di tolong.

Boleh dikatakan perasaan ini dialami oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang lurus hatinya saja yang tidak mempermasahkan ini. Dia hanya berfikir bahwa apa pun fasilitas yang Allah berikan, haruslah menjadi jalan kemudahan bagi orang lain. Saya ingat suatu hari ada seseorang yang begitu mudahnya memberikan pertolongan mengatakan “mbak, bukankah ketika kita meringankan beban saudara, maka Allah akan meringankan beban kita?!” Subhanallah. Masih ada di dunia ini jiwa-jiwa seperti ini. Memberikan pertolongan tanpa pamrih, kecuali hanya dengan keikhlasan mengharap keridhaan Tuhannya.

Saya jadi berfikir, bagaimana dengan konteks menolong agama Allah? Bolehkah kita melebarkan makna dengan mengatakan, bahwa setiap hal baik yang Allah ridho padanya, tidak dalam rangka melaksanakan kemaksiyatan pada Allah, adalah bagian dari menolong agama Allah? Bolehkah jika kita katakan, bahwa membuat sunnah hasanah dengan melestarikan jiwa saling meringankan beban orang lain, adalah juga menolong agama Allah? Bolehkah jika katakan bahwa menolong agama Allah bukan hanya berdakwah dalam forum-forum dan berjihad dalam peperangan? Jika kita berjihad mendarmakan diri kita demi jalan kemudhan bagi orang lain, apakah itu bagian dari menolong agama Allah?

Jika jawaban yang kita dapatkan adalah “iya”, maka mengapa kita tidak menjadi cerdas membidik amal-amalan yang mudah kita lakukan dan bermanfaat besar bagi orang lain? Hanya hati kita bisa menjawabnya. Rasa egois adalah bagian dari diri kita. Wajar jika kita akan membuat banyak alasan untuk menguatkan sikap kita. Atau malah kita katakan bahwa itu adalah bagian dari hak asasi manusia. Adalah hak saya untuk menolong atau tidak. Na’udzubillahi mindzalik.

Semoga Allah menjaga qolbu kita dari sikap kikir, bahkan pada hal yang kecil sekali pun. Wallahu a’lam bishowab.

Muhasabah di awal Dhuha, Rabu 24 Juni 2009

fira412@gmail.com

Selasa, 19 Mei 2009

kANGEN

13 Mei 2009

(diiringi lantunan penuh asa Izzatul Islam, Sang Murrobi dan linangan kebahagiaan tak tertandinggi)

Ya Allah izinkan aku kembali

Izinkan aku berbuat

Izinkan aku menikmati jalan para pewaris nabi dan jadikan aku ada diantaranya.

Izinkan dzikir-dzikir penuh kerinduan ini mengalun dalam derasnya butir-butir kebahagiaan

Saat jiwa-jiwa tercerahkan,

saat pilar-pilar keagungan-Mu menjulang di seantero pelosok negeriku.

Izinkan aku tak hanya bernostalgia dengan semua kenangan ini.

Biarkan aku menikmati lagi perjalananku yang sesungguhnya.

Perjalanan hamba yang merindukan senyum Tuhannya.

Perjalanan yang membuatku tersenyum dengan sepenuh jiwaku.

Senyum kedmaian yang bahagian yang tiada terperi dalam tiap detak jantung yang hanya berharap ridho-Mu.

Kuatkan ia ya, Allah…

‘Azzam yang masih tersimpan dalam relung dan palung jiwaku terdalam.

Apa lagi yang kuharap selain senyum-Mu, Rahiim.

Biarlah rasa kesendirian ini pergi dan berganti dengan kebangkitan generasi rabbani yang hadir dari perantara duta-Mu ini.

Sang Murrobi

Ribuan langkah kau tapaki

Plosok negri ku sambangi

Tanpa kenal lelah jemu

Sampaikan firman Tuhanmu………..

Terik matahari tak surutkan langkahmu

Deru hujan badai tak lunturkan ‘azzammu

Ragakan terluka tak jerikan nyalimu

Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih

Panjatkan ampun bagimu

Semua makhluk berdoa

Limpahkan rahmat atasmu……………

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti

Surga kekal nan abadi

Balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami kau semi nilai nan suci

Tegak panji illahi bangkit generasi rabbani.

Semoga Allah mengabulkan doaku di ujung pagi ini. Dan biarkan para malaikat mengamininya. Dan biarkan aku bertemu dengan keindahan wajah Rabbku….

Amiin ya rabbal ‘alamin.

Asma Amanina, di ujung pagi bersama Tinjauan pustaka tesisku.10:50

AKU BELAJAR....DAN HARUS BELAJAR

Bismillah……….

Astaqhfirullahal ‘adzim.

Ya Allah….betapa banyak dosa yang sudah kulakukan hari ini. Mungkin juga karena aku jika seseorang harus melalaikan-Mu. Meski aku tahu, semalam ustadz Syatori menyampaikan bahwa baik buruknya seseorang tidak dipengaruhi seutuhnya oleh orang lain pun komitmennya. Jika pun ada itu hanya 15 % nya saja.

Astaqhfirullahal ‘adzim.

Ya Allah….betapa bodohnya diri ini. Mungkin karena ketidaksempurnaan ilmuku yang membuat orang lain tidak menerima informasi dengan jelas, gamblang dan shahih. Meski aku tahu, semua orang tidak bisa di ajak bicara dengan cara dan ilmu yang ilmiah, dan inginnya dengan bahasa yang mudah dan praktis. Oh, berarti aku harus belajar ilmu cara menyampaikan bahasa hukum ke dalam bahasa masyarakat awam……………

Alhamdulillah,…

Ya Allah….hari ini aku belajar berbicara dengan bahasa yang sederhana, tenang dan menguasai konsep.

Ya Allah, aku juga belajar tentang pentingnya membangun konstruksi hukum yang tidak terburu-buru. Dijelaskan, dituliskan, dipahamkan.

Ya Allah, hari ini aku juga belajar menjadi seorang ibu yang siap dan tangguh. Punya planning saat akan melaksanakan sesuatu hingga tidak melanggar hak-hak menemui-Mu. Menyiapkan perlengkapan anak saat bepergian, hingga tidak menajiskan ibunya saat hendak shalat.

Aku juga belajar menjadi ibu yang tidak over protected pada anak. Menanamkan sikap mandiri dan percaya diri anak agar tidak bergantung pada ibunya. Bukan karena kesibukannya nanti dengan pekerjaan, tapi agar anakku tumbuh menjadi jundi yang kuat dan tidak “cemen”. “Ayo mujahid kecil, katakan engkau jundi yang lebih dicintai Allah karena KUAT”.

Ya Allah, antara senang, sedih dan merasa berdosa yang sangat. Karena aku ceroboh hari ini. Sampai buku agenda seorang Bapak terbawa dalam tasku….oh….Bapak maafkan aku….

Lucu banget sich kisah hari ini.

TRAGIS…!!!!!!

Mau tahu cerita selengkapnya ? hubungi :08……… :)……….dah dulu ah…mau mandi..O_O tapi Ruri juga mau mandi, yo wes duluan aja…………..tak Al Ma’tsuratan dulu.

Maghrib di Asma Amanina, 16 Mei 2009

Jujur aku tidak mau mengingat hari ini, AKU MALU…

Bangkit !

21 April 2008

Bismillahirrahmanirrahim.

Mbak, hari ini adalah moment kebangkitan wanita-wanita Indonesia. Maka janganlah pernah menyerah sekalipun sulit ya, oke…Bapak.

Sender

Mamy Q

21 April 2008

06:53:47

Air mataku menyesakkan kedua kelopak mata, dan akhirnya tumpah juga.

Saat aku bangun 1/3 malam tadi dengan badan yang masih lelah, aku berharap bisa memulai hari ini dengan semangat. Kubunuh rasa malas dan kucoba berwudhu dengan cinta

Rabu, 01 April 2009

Penting

Hari ini kujalani dengan indah. Keindahan itu mulai pudar warnanya saat sebuah kesalahan kulakukan. Sunatullah, tiap keburukan lebih suka mengundang keburukan pula.

Sepertiga malam kulalui dengan teman-teman yang semalaman sempat tidur cukup larut,. Diskusi, tahsin bercanda...oh sampai selarut ini kami masih saja membuat keributan :) (maaf ya yang merasa terganggu,..).

Bangun dengan semangat, aku nyaris melompat dari peraduan. Ingat janji semalam mau tahajjud bareng :)..Tapi ya itulah,...sudah setengah empat rupanya kami baru bangun, meski sudah dibangunin dari tadi. Akhirnya shalat bersama tapi sendiri-sendiri....

Siap menyambut hari, aku menghilangkan sisa-sisa kantuk semalam dengan bersenandung di sepanjang koridor kamar-kamar. Yap today waktunya belanja, rapat di kantor, masak dan standby di training saksi...

Rasanya sudah mantap saja planning-planning semalam sebelum mata terpejam. Tapi ya, namanya rencana, jika ia tidk bisa A maka nusti ada B,C atau apalagi. Dan bener, kejadiannya beda dari planning, meski hanya 20%. Yo wes ra popo... masih bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat pagi ini.

Rapat sosialisasi di kantor berjalan molor!!! entahlah, tapi aku tak mau menyalahkan siapapun toch kita memang menunggu direktur operasional. Setelah berbagai sosialisasi, pertanyaan, pernyataan dan jawaban-jawaban plus PR tercurah dari beberapa personil, adzan Zuhur pun menyapa. (eh,,ada yang Milad tgl 1 April, jadi ada hidangan nie di ruang tamu, trus foto-foto dech Crewnya).

Waktunya pulang dan masak buat ntar malam. Soale pukul 15.00 sudah harus standby di pelatihan saksi. Hanya karena kecintaan yang berlebih dengan diri dan orang-orang dekat, akhirnya tombol power laptop harus kepencet lagi. Lalu wajah-wajah manis mulai menghiasi layar. Yang pasti rata-rata wajahku sendiri (narsiskah?:), gak lah,ya...kata adik yang di psikologi, narsis itu penyakit. Tapi tak apalah, dengan begitu aku jadi bisa mensyukuri nikmat penciptaan). Tapi aktivitas ini akhirnya jadi bumerang....
why?
karena aku menghabiskan sekian menit bersama kotak kecil itu. Yach, sudah kuperkirakan sich. Berapa waktu yang akan kupakai untuk menyelesaiakan menu hari ini. Tapi ups... jam sudah mulai mengarah ke angka 3. Berarti aku harus segera ganti urusan. Lalu kutitipkan prosesi mencuci beras dan nyolokin rice cooker ke adik-adik di rumah. Dan.......... ini rupanya awal masalahnya.

Setelah diantar ke lokasi training, aku pesan minta di jemput adik sekamar pukul 18.00 atau labih baik sebelum maghrib. Ternyata, friend....dia lupa!
aku hanya mengirim gambar senyum ke ponselnya dan say "take care, dik". Semoga tidak masalah lagi di perjalanannya. Aku sudah terlalu lama menanti di sini. Selepas Maghrib harus halaqoh Qur'an. tapi yach, namanya lupa itu pasti tidak ingat :)

Diperjalanan aku membayangkan akan segera menemukan masakan yang tadi sudah kupersiapkan.Ehmm, pasti enak sekali (PeDe banget sich, iyalah. Dalam kamus lidahku kan hanya ada dua rasa, enak dan enak sekali. Masakan orang buatku semua rasanya enak, dan maskan sendiri di lidahku, enak sekali. Wee urik, itu. Kata orang Jambi sekewet. :0 yo ra popo to? lha wong ra doso kok). Karena pedenya bakal makan di rumah, aku hanya membeli sepotong "ayam manis" yang kusuka. Aku menyebutnya begitu.

Setelah menghidangkan makanan, kuperiksa nasi yang tadi kutitipkan untuk dimasak. Oh,,,,Rabbana. Rice cookernya penuh sekali dan nasinya belum matang :(. Sedihnya hatiku, bukan apa-apa, aku tahu semua teman-teman yang ikut masak bareng selalu pulang maghrin dan pasti lapar. Sebelum halaqoh Qur'an biasanya kami makan selepas sholat. Lagian aku baru ingat, kalau dari pagi perutku juga belum disentuh nasi. Pantas rasanya "lapar":). Begini ni kalau tidak disiplin makan. Untuk sakit pencernaanku tidak langsung berontak. Soale sudah diganjal sama makanan lain kali, ya. Tapi karena asli Indonesia, ya biasalah. Kudu ketemu nasi.

Sedih sekali rasanya, saat aku bertugas di hari pertamaku piket masak, aku harus mendzolimi teman-teman. Ohhhhh.

Kadang ada saja hal yang tidak kita sangka-sangka akan terjadi di luar prediksi. Aku berani minta tolong masakin nasi siang tadi, karena biasanya si adik juga biasa masak nasi dan FINE aja. Rupanya dia pun delegasi tugas. Penerima delegasi juga biasa masak nasi.... Masya Allah alangkah pentingnya ternyata belajar masak buat para calon Ibu. Dari hal kecil memprediksi takaran nasi dan ukuran wadah saja perlu latihan ternyata (hayo para wanita).

Aku masih saja menyalahkan diriku yang tidak amanah hari ini. Kecewa?pasti. Tapi sudah kadung ngono,yo piye meneh. rupanya si adik masak dari sore sampai malam begini gak mateng-mateng :). Aku menyesal karena aktivitas di depan laptop siang tadi yang seharusnya tidak ada di daftar agendaku hari ini jadi nyempil. Sedih, friend. Banget!

Terlalu banyak kdang teori yang mampir dalam buku catatan kita, memori kita. Tapi untuk memanggilnya kembali saat tertentu, butuh akhlaq, kebiasaan, karakter (wee berat banget). Ya, kita sering diajari skala prioritas, tapi saat bekerja dan beraktivitas, sudahkan memori tentang ilmu itu menemani? Apalagi jika mengerjakan hal yang bukan hanya urusan diri sendiri, yang ada hubungannya dengan orang lain, yang ada hubungannya dengan untung rugi, apalagi yang ada hubungannya dengan akhirat, betapa beratnya konsekwensi yang harus ditanggung.

Manusia, sekali lagi manusia. Begitu manusiawi. Sering lalai, lupa, malas dan sederetan kisah buruk lainnya. Semoga aku bisa belajar untuk peristiwa ini. 1 April 2009 - Asma Amanina DIY

Rabu, 21 Januari 2009

Selalu

Bismillah....
akhirnya mampir juga ke rumah ini. Tapi diantara pusing yang amat sangat, makanya gak bisa banyak berekspresi. Mohon doa dari muslim sedunia, segera pulih kembali seperti ketika baru lahir:) maksudnya?